Jadilah Kopi : Sebuah Filosofi

kopi luwak filosofi kopi luwak best coffee price indonesia

Filosofi Kopi adalah sebuah cerita fiksi karya Dewi Lestari yang akrab dipanggil dengan nama Dee. Dalam buku Filosofi Kopi, Dee menghadirkan sebuah karya tentang perjuangan seorang yang memiliki hobi terhadap kopi dan memaknai kopi dari sudut pandang kehidupan.

Buku tersebut dianugerahi sebagai karya sastra terbaik tahun 2006 oleh majalahTempo, dan pada tahun yang sama, Filosofi Kopi juga berhasil dinobatkan menjadi 5 Besar Khatulistiwa Award kategori fiksi. 

Kopi tubruk itu sederhana, tapi sangat memikat kalau kita mengenalnya lebih dalam,” jawab Ben cepat. Lalu ketika pelanggan selanjutnya menanyakan petuah lain yang bisa didapat dari secangkir cappucinno, Ben kembali tersenyum dan menjawab “Seperti pilihan Anda ini, cappuccino. Ini untuk orang yang menyukai kelembutan sekaligus keindahan.”

Begitulah sedikit kutipan cerita pendek Dewi Lestari, yang ditulis kembali skripnya oleh kepiawian Jenny Jusuf.

Di tangan Jenny Jusuf dan Angga Sasongko, Filosofi Kopi menjelma menjadi novel-to-film terbaik karya Dewi Lestari. Pengembangan cerita dan karakter-karakternya solid sekali.

Dramanya dan komedi nya mampu memberikan warna nuansa bagi setiap scene ceritanya. Setiap karakter juga punya background cerita yang menjawab pertanyaan “why” dari segala tindak tanduk mereka. Background ini membuat ceritanya berkembang dalam banyak layer. 
 
Untungnya, karakter dan cerita yang udah susah payah dikembangin Jenny itu berhasil dimainkan dan dibikin hidup dengan sangat baik sekali oleh dua aktor utama nya, Chicco Jerikho dan Rio Dewanto. 

Chemistry “soulmate” mereka sangat dominan dalam menjiwai karakter persaudaraan dua orang sahabat yang dibina sejak kecil. Layaknya magnet yang menarik pemirsa di setiap emosi, perselisihan, dan canda tawa nya.

Penggambaran perbedaan karakter mereka yang kuat, antara“the wild but gentle” Ben dan Jody “the hot-tempered but loveable”, membuat gejolak bergumulan yang hidup layaknya karakter antara kopi dengan aroma fruitynya yang diseduh dengan gula dan air panas dalam secangkir kopi tubruk.

Selain Chicco, Rio dan Julie (yang mampu menampilkan sisi kelembutan sekaligus keindahan bagai secangkir “ cappucinno “), banyak juga pemain lain yang hanya tampil sebagai cameo di film Filosofi Kopi. Ada Tara Basro, Baim Wong, Verdi Solaiman, dan juga Joko Anwar serta Tanta Ginting yang singkat banget penampilannya, tapi bener-bener mencuri perhatian.

Selain itu, Slamet Rahardjo sebagai petani kopi “tiwus” ternyata melalui aura kebijaksanaannya mampu memberikan nuansa keteduhan yang mendinginkan gejolak dalam cerita ini.

Filosofi Kopi  “the movie” bercerita   tentang tentang ambisi dan cinta, yang juga merupakan sebuah bentuk usaha dalam menyatukan pergolakan antara hati dan pikiran.

Angga Sasongko sebagai sutradara terbukti berhasil meracik dan membuat Filosofi Kopi menjadi sebuah Angga’s Perfecto.

Selamat atas kesuksesan Barista Perfilman Indonesia dan tetap semangat dalam karya serta perjuangannya untuk selalu mencari, meracik dan menyajikan “Kopi Tiwus” bagi perfilman di Tanah Air.

____________________o__________________

Sedikit berbeda dengan dengan filosofi kopi karya Dee Lestari, berikut sebuah nasehat seorang ibu kepada putranya ketika mengeluhkan tentang banyak permasalahan dalam kehidupannya.

Pada suatu hari, seorang putra pulang ke rumah dan mengeluhkan masalah yang dihadapinya. Namun betapa kagetnya, karena ternyata ibunya hanya diam saja, seolah tidak ingin mendengarkan keluh kesahnya.

Bahkan sang ibu malah masuk ke dapur, meskipun anaknya terus bercerita sambil mengikutinya.

Sang ibu lalu memasak air.
Sampai airnya mendidih, lalu sang ibu menuangkan ‘Air Panas Mendidih’ itu ke dalam 3 gelas yang telah disiapkan.

Di gelas pertama ia masukkan WORTEL, di gelas kedua, ia masukkan TELUR, dan di gelas ketiga, ia masukkan KOPI.

Setelah menunggu beberapa, ia mengangkat isi ketiga gelas tadi, dan hasilnya:
• WORTEL yang KERAS  menjadi LUNAK,
• TELUR yang mudah PECAH menjadi KERAS
• dan KOPI menghasilkan aroma yang HARUM.

Lalu sang ibu menjelaskan : 
MASALAH DALAM HIDUP ITU BAGAIKAN AIR MENDIDIH.
Namun, sikap kitalah yang akan menentukan dampaknya.

Kita bisa menjadi Lembek seperti Wortel, mengeras seperti Telur, atau harum seperti Kopi.

Wortel dan telur bukan mempengaruhi air, tetapi malah berubah karena air mendidih itu, sementara KOPI malah mengubah AIR, membuatnya menjadi HARUM.

”Setiap Masalah, selalu tersimpan Mutiara Iman yang berharga.
Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja. Tapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan Tuhan seolah tidak kunjung datang?”

Ada 3 reaksi orang saat masalah datang :

• Ada yang menjadi lembek, suka mengeluh (seperti wortel tadi) dan mengasihani diri sendiri.

• Ada yang mengeras (seperti telur), marah dan berontak kepada Tuhannya…

• Ada juga yang justru semakin harum (seperti kopi), menjadi semakin kuat dan percaya padaNYA.

Ada kalanya Tuhan sengaja menunda pertolonganNYA.

Apa tujuannya?

Agar kita belajar percaya dan setia!
Karena tidak pernah ada masalah yang tidak bisa Tuhan selesaikan.

Selamat menikmati Secangkir Kopi.☕

Sumber:
http://www.ngobrolinfilm.com/2015/04/review-filosofi-kopi-angga-dwimas.html?m=1

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Filosofi_Kopi

Advertisements

2 thoughts on “Jadilah Kopi : Sebuah Filosofi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s